Berita Utama

Kamis, 22 Februari 2024
Kamis, Februari 22, 2024
spot_img

KSPN Usulkan UMP Sebaiknya Dihapus, Berikut Penjelasannya

NASIONAL, Topinfo.id: Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN) mengusulkan kebijakan penentuan Upah Minimum Provinsi (UMP) sebaiknya dihapus.

diketahui, pemerintah provinsi telah menetapkan kenaikan upah minimum provinsi (UMP) untuk tahun 2024. Kecuali provinsi Maluku, serta 3 provinsi hasil pemekaran Papua, yaitu provinsi Papua Pegunungan, Papua Barat Daya, dan Papua Selatan.

Kenaikan UMP tertinggi terjadi di provinsi Maluku Utara dengan kenaikan 7,5% atau sebesar Rp221.646,57 menjadi RP3.200.000. Sedangkan terendah adalah kenaikan UMP di Gorontalo yang cuma naik 1,19% atau hanya Rp35.750 menjadi Rp3.025.100.

Meski begitu, besaran UMP tahun 2024 tertinggi masih terjadi di DKI Jakarta yang sebesar 5.067.381 atau hanya naik 3,3%.

Lalu bagaimana reaksi buruh? Apakah kenaikan itu sudah ideal

Mengingat, buruh sebelumnya telah berulang kali menuntut agar upah tahun 2024 dinaikkan sebesar 15%.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN) Ristadi mengatakan, seharusnya pemerintah menetapkan formula penghitungan kenaikan upah dengan memperhitungkan dasar kehidupan layak si pekerja.

Dengan begitu, ujarnya, kenaikan upah bisa menopang pekerja bisa menikmati pertumbuhan ekonomi.

“Pertumbuhan ekonomi adalah indikator pertumbuhan kemakmuran yang harus dinikmati secara merata oleh seluruh rakyat Indonesia termasuk pekerja buruh,” katanya kepada CNBC Indonesia, dikutip Jumat (24/11/2023)

“Dulu kan kenaikan upah minimum itu pernah dengan rumus inflasi ditambah pertumbuhan ekonomi. Dengan maksud bahwa agar nilai penghasilan pekerja tetap terjaga maka ada faktor inflasi, lalu pekerja juga harus menikmati pertumbuhan kemakmuran maka ditambah lah pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.Formula yang digunakan pemerintah saat ini, imbuh dia, justru terbalik. Menurutnya, kesalahan pada formula ini ada pada faktor pengali berupa indeks tertentu atau α.

Dimana, sesuai Peraturan Pemerintah (PP) No 51/2023 tentang Pengupahan, rumus penentuan kenaikan UMP adalah:

UMP = inflasi + (pertumbuhan ekonomi X indeks tertentu/α)

Sebagai gambaran, dengan inflasi bulan Oktober 2023 sebesar 2,56% secara tahunan, sementara pertumbuhan ekonomi pada kuartal III sebesar 4,94% secara tahunan, dengan menggunakan rumus tersebut, dikalikan indeks tertentu 0,1 dan 0,3 maka kenaikan UMP tahun 2024 tak sampai 5%. Tentu saja, besaran kenaikan tergantung dengan inflasi dan pertumbuhan ekonomi di masing-masing provinsi.

Indeks tertentu atau α tersebut, kata dia, adalah biang kerok yang menyebabkan penghitungan kenaikan UMP kali ini tak ideal.

“Kesalahan formula ini adalah pertumbuhan ekonominya tidak utuh 100%, tapi dikalikan 0,10-0,30. Jadi, maksimal pekerja menikmati sepertiga pertumbuhan ekonomi saja. Iya, (α jadi biang kerok) karena α jadi faktor pengali yang merendahkan,” tukasnya.

“Maka kalau kenaikan upah di bawah pertumbuhan ekonomi artinya pekerja tidak ikut menikmatinya. Lalu siapa yang menikmati pertumbuhan ekonomi? Kalangan ekonomi atas,” sebut Ristadi.

Di sisi lain, Ristadi menambahkan, kebijakan penentuan UMP juga tak efektif. Sehingga, pemerintah sebaiknya menghapus saja kebijakan UMP.

“Menurut saya UMP tidak efektif dan membingungkan sebab ada juga UMK. Oleh karena itu UMP sebaiknya dihapus kecuali Jakarta,” ujarnya.

Gerakan Mogok Nasional

Hanya saja, Ristadi mengungkapkan, sampai saat ini buruh yang tergabung dalam KSPN belum menentukan sikap terkait upah tahun 2024.

“KSPN masih tiarap dan lagi cari peluang negosiasi. Sebab situasi industri tekstil yang merupakan basis anggota KSPN sedang dalam kondisi banyak PHK (Pemutusan Hubungan Kerja),” kata Ristadi.

Dapatkan update berita terbaaru setiap hari dari Topinfo.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Topinfo News Update", caranya klik link https://t.me/topinfoid_update, kemudian klik join.

Bagikan artikel

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img