Selasa, Agustus 9, 2022
Google search engine
BerandaNasionalMantan Dirut Garuda Indonesia Ditetapkan Sebagai Tersangka

Mantan Dirut Garuda Indonesia Ditetapkan Sebagai Tersangka

NASIONAL, Topinfo: Mantan Direktur PT. Garuda Indonesia, Emirsyah Satar telah ditetapkan menjadi tersangka oleh Kejaksaan Agung Republik Indonesia karena kasus korupsi.

Emirsyah diduga terlibat kasus korupsi terkait pengadaan pesawat di PT. Garuda Indonesia yang mengakibatkan kerugian negara mencapai triliunan rupiah.

“Kejaksaan telah menetapkan tersangka baru dalam kasus korupsi pengadaan pesawat di PT. Garuda Indonesia yakni Eks dari Dirut PT. Garuda,”Kata Jaksa Agung, Sanitiar Burhanudin.

Selain nama Emirsyah Satar, Komisi Pemberantasan Korupsi juga menetapkan mantat Direktur Mugi Rekso Abadi dan Soetikno Soedarjo menjadi tersangka.

Burhanudin mengatakan jika negara mengalami kerugian hingga 8 triliun rupiah terkait dengan kasus ini.

Dalam kasus ini, Kejagung telah mengumumkan tiga nama tersangka diantaranya Setijo Wibowo, VP Strategic Management Office Garuda Indonesia 2011-2012; Agus Wahjudo, Executive Project Management Aircraft Delivery Garuda Indonesia 2010-2014; dan Albert Burhan, VP Vice President Treasury Management Garuda Indonesia.

Ketiganya dijerat dengan pasal primer pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 Jo. Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Terkait dengan dugaan adanya tindak pidana korupsi pengadaan 18 unit pesawat Sub 100 seater tipe jet kapasitas 90 seater dengan jenis Bombardier CRJ-1000 pada tahun 2011, baik tahap perencanaan maupun tahap evaluasi tidak sesuai dengan prosedur pengelolaan armada dari PT. Garuda Indonesia (Persero).

Tersangka Setijo Awibowo diduga tidak terdapat laporan analisis pasar dalam tahap perencanaan, laporan rencana rute, juga laporan analisis kebutuhan pesawat dan tidak terdapatnya rekomendasi serta persetujuan board of direction (BDO).

Tahap pengadaan Pesawat Evaluasi, dimana mendahului rencana jangka panjang perusahaan dan atau rencana kerja dan anggaran perusahaan, juga tidak sesuai dengan konsep bisnis Full service airline dari Garuda Indonesia.

Akibatnya dengan pengadaan pesawat CRJ-1000 dan pengambilalihan pesawat ATR 72-600 yang tidak sesuai dengan PPA, Prinsip-prinsip pengadaan BUMN dan juga Prinsip Business judgmenr rule, performance pesawat selalu alami kerugian saat dioprasikan.

Hal ini menimbulkan kerugian keuangan negara sebanyak 609.814.504 dolar Amerika atau setara dengan nilai ekuivalen Rp 8,8 Triliun.

RELATED ARTICLES
- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments