Global, Topinfo: Amerika Serikat (AS) dan China bersiap menggelar dialog tingkat tinggi di Malaysia akhir pekan depan, sebagai langkah awal menuju pertemuan bilateral antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) 2025.
Pertemuan ini diharapkan mampu meredakan ketegangan perdagangan yang kembali memanas antara kedua kekuatan ekonomi terbesar dunia.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan rencana tersebut dalam konferensi pers di Gedung Putih pada Kamis (16/10/2025) waktu setempat.
Ia menyatakan bahwa delegasi AS akan bertemu langsung dengan tim China yang dipimpin Wakil Perdana Menteri He Lifeng di Malaysia sekitar seminggu ke depan.
Sebelumnya, Bessent dijadwalkan melakukan pembicaraan telepon dengan He pada malam hari yang sama.
Dikutip dari Straits Times Bessent menyampaikan pihaknya yakin pertemuan ini akan menjadi fondasi kuat untuk diskusi presiden nanti.
Situasi saat ini, lanjut dia, sudah mulai mereda, dan dia berharap China menunjukkan sikap saling menghormati seperti yang telah AS lakukan.
Pengumuman ini disampaikan di sela-sela makan siang antara Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, di mana keduanya menjawab pertanyaan wartawan.
Bessent menekankan peran hubungan pribadi Trump-Xi dalam membawa hubungan bilateral kembali ke jalur positif.
“Karena kedekatan kedua presiden, saya optimis kita bisa mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan,” tambahnya.
Trump sendiri mengonfirmasi rencana pertemuan empat mata dengan Xi pada akhir Oktober di Gyeongju, Korea Selatan, tepat di pinggir acara utama KTT APEC yang berlangsung 31 Oktober hingga 1 November 2025.
“Kami sedang berdiskusi intensif, dan saya yakin hasilnya akan positif. Ini akan jadi kesempatan bagus untuk membahas isu-isu krusial,” kata Trump.
Latar belakang ketegangan muncul setelah Beijing mengeluarkan regulasi baru terkait ekspor mineral tanah jarang, bahan vital untuk industri teknologi tinggi seperti semikonduktor dan kendaraan listrik.
Langkah ini memicu kekhawatiran di AS akan gangguan rantai pasok global. Sebagai balasan, Trump mengancam memberlakukan tarif impor tambahan hingga 100 persen terhadap barang-barang China pekan lalu, meskipun ia kini menyatakan siap menegosiasikan penurunan jika dialog berjalan lancar.
Sejak Trump kembali menjabat pada Januari 2025, kedua pemimpin belum pernah bertemu langsung. Pertemuan terakhir mereka terjadi pada era Trump pertama, di KTT G20 Osaka 2019.
Para analis memandang KTT APEC kali ini sebagai momen krusial, tidak hanya untuk AS-China, tapi juga bagi stabilitas ekonomi Asia-Pasifik secara keseluruhan.
Menurut pakar dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), hubungan bilateral saat ini relatif stabil meski sempat tegang di awal tahun akibat tarif tinggi.
“Pertemuan di Malaysia bisa jadi katalisator untuk kesepakatan sementara, termasuk pengurangan tarif dan kerjasama di bidang teknologi,” kata seorang analis CSIS.
Sementara itu, Korea Selatan sebagai tuan rumah KTT APEC berupaya memfasilitasi kunjungan negara Trump dan Xi di sela-sela acara, termasuk kemungkinan dialog dengan Presiden Lee Jae-myung.
Pemerintah Seoul juga berharap forum ini membuka peluang bagi negosiasi tarif timbal balik, di mana AS saat ini membebankan 25 persen pada impor Korea.Dampak potensial dari dialog ini luas.
Jika berhasil, kesepakatan bisa menstabilkan pasar global, mengurangi inflasi akibat kenaikan harga teknologi, dan mendorong kolaborasi di sektor AI serta rantai pasok mineral kritis.
Sebaliknya, kegagalan berpotensi memperburuk perang dagang, memengaruhi 21 ekonomi anggota APEC termasuk Indonesia, Jepang, dan Australia.
Para pengamat perdagangan internasional menyoroti bahwa KTT APEC 2025 bukan hanya ajang diplomasi, tapi juga panggung untuk membahas isu global seperti perubahan iklim dan keamanan siber.
Dengan latar belakang ketegangan geopolitik, termasuk dukungan AS terhadap Taiwan yang dikritik China, pertemuan Trump-Xi diharapkan menghasilkan komitmen konkret untuk dialog berkelanjutan.
Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari pihak China mengenai detail pertemuan di Malaysia. Namun, Menteri Perdagangan China Wang Wentao baru-baru ini menyatakan keinginan Beijing untuk mengembalikan hubungan dagang ke jalur stabil, menegaskan bahwa perang tarif tidak diperlukan. Pengembangan lebih lanjut akan dipantau menjelang akhir pekan.


